Jumat, 20 Mei 2011

       Mengupas Rahasia Kepemimpinan Gus Dur-Gus Miek

                                            Judul                 : Leadership Secrets Of Gus Dur-Gus Miek
                                            Penulis              : M.N. Ibad
                                            Penerbit            : Pustaka Pesantren
                                            Cetakan            : I, Desember 2010
                                            Tebal                : 218 halaman
                                            Peresensi          : Muhammad ‘Afwan Romdloni*
         M. N. Ibad adalah salah satu dari kalangan masyarakat yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan Gus Miek. Secara tidak langsung ia mengetahui keseharian KH. Hamim Jazuli (Gus Miek) menjadi pemimpin umat khususnya di daerah Jawa Timur. Yang mana beliau sangat erat hubungannya dengan sosok seorang pemimpin yang berkecimpung dalam pemerintahan yakni KH. Abdur Rahman Wahid (Gus Dur). Jika Gus Dur memilih berkiprah di tingkat nasional maka Gus Miek lebih memilih berdakwah di lembah hitam kemaksiatan, mulai dari diskotek, arena perjudian, hingga lokalisasi. Meskipun berbeda wilayah perjuangan, kedua tokoh besar ini ternyata memiliki prinsip-prinsip kepemimpinan yang tidak jauh berbeda.
          Pemimpin adalah suatu peran tertentu bagi seseorang dalam sebuah sistem organisasi baik yang resmi ataupun tidak. Seseorang akan diakui sebagai pemimpin berdasarkan kesepakatan atau adat yang berlaku dalam masyarakat. Atau karena kharismatik yang dimiliki seseorang tersebut. Dalam buku ini disebutkan dua model kepemimpinan yang di anggap paling relevan. Pertama, visioner adalah suatu kepemimpinan yang mengedepankan visi-visi masa depan. Metode ini mengandung tiga visi utama, 1. Mengandung visi masa depan yang mungkin terjadi. 2.visi masa depan yang di inginkan. 3. Visi masa depan yang baik dan hancur. Kepemimpinan visioner ini akan mencapai puncak kehebatan bila di terapkan pada sebuah organisasi atau jam’iyah yang bersendikan kesamaan keyakinan. Kedua, passioner adalah kepemimpinan yang mengandalkan kekuatan passi. Passi sendiri dapt di artikan sebagai cinta, motivasi, inspirasi dan perhatian. Kepemimpinan passioner cenderung lebih menumbuhkan kecintaan dan pembelaan (fanatik) dari yang terpimpin pada sang pemimpin. Yang mana kedua metode ini yang digunakan oleh Gus Dur dan Gus Miek.

Prinsip Sebuah Kepemimpinan
         Baik Gus Dur maupun Gus Miek dengan berbagi kelebihan dan kekurangannya sebagai pemimpin, sama-sama sadar akan perlunya perjuangan untuk menemukan jati diri, bentuk, dan pilihan perjuangan. Sesungguhnya segala sesuatu itu haruslah ada perjuangan untuk mencapai tuan yang di inginkan. Sebuah kedudukan atau jabatan sebagai pemimpin tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, kehormatan, harta benda tetapi di gunakan sebagi wadah suatu perjuangan dan lebih mementingkan rakyat dari pada pribadi.
Menempatkan kebaikan bagi masyarakat sebagi tanggung jawab utama, bahkan seorang pemimpin haruslah mau sebagai pelayan bagi masyarakat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para wali dahulu. Seorang pemimpin bukanlah pemimpin yang selalu benar, tetapi mereka yang terbuka dengan kritik dan masukan yang ada dari kalangan masyarakat.
          Seorang pemimpin adalah mereka yang mampu mengambil keputusan demi kebaikan semuanya. Tidak jarang kita menemukan pemimpin dalam mengambil keputusan diombang-ambingkan oleh berbagai kepentingan. Akibatnya keputusan yang diambil justru menguntungkan golongan tertentu. Namun apa yang di perlihatkan oleh Gus Dur dan Gus Miek berbalik seratus persen. Keputusan terbaik tidak selalu diperoleh dengan jalan musyawarah dan untuk kepentingan bersama.

Sebuah Keteladanan Seorang Pemimpin
          Pandangan dan prinsip Gus Dur maupun Gus Miek dalam islam pada dasarnya sama, hanya cakupan wilayah perjuangannya yang berbeda. Keduanya merupakan pembaharu dalam hal kehidupan keislaman Indonesia abad ini, hanya saja terdapat semacam pembagian tugas perjuangan.
          Pandangan dan sikap Gus Miek dalam keislaman lebih bersifat pribadi sendiri, pribadi dengan orang sekelilingnya, pribadi dengan masyarakat, pribadi dengan lembaga pemerintah, dimana seseorang dituntut untuk meletakkan prinsip mawas diri, mawas dari orang lain, dan mawas diri dari masyarakat. Titik tekanya buka memaksakan nilai yang kita anut kepada orang lain, karena orang lain belum sanggup untuk menjalankan nilai-nilai tersebut, tetapi lebih berusaha menemukan nilai-nilai yang sanggup di jalankan oleh masing-masing. Dengan demikian, di harapkan yang mincul kemudian adalah kesadaran dan kebersamaan untuk bersama-sama menuju kebaikan bersama.
        Sedangkan pandangan dan sikap Gus Dur merupakan kelanjutan dan keluasan dari pandangan Gus Miek di atas. Dalam arti, sudah mencakup wilayah pribadi masyarakat, kelompok agama, etnis atau suku bangsa, kelompok politik, kehidupan berbangsa seterusnya. Beliau lebih mementingkan sikap rahmatan lil ‘alamiin. Dari penekanan ini, kemudian muncul sikap kasih sayang dan mengesampingkan sinisme yang disebabkan perasaan yang paling benar. Dan sikap kasih sayang ini sebagi pembatas agar tidak membuat sakit hati suatu suku, agama, ataupun suatu kelompok, serta mengekang keinginan untuk menguasai atau menindas.
         Perpaduan pandangan dan perpaduan keislaman Gus Dur dan Gus Miek berarti sebuah perpaduan antara penerapan prinsip-prinsip di atas dalam tataran pribadi seseorang dalam wilayah lapisan masyarakat dari yang paling bawah sampai wilayah kenegaraan dan kebangsaan. Apabila perpaduan dari dua tokoh besar ini mampu di manifestasikan dalam kehidupan, maka akan tercapai kehidupan yang dinamis, harmonis dan martabat negeri ini dalam mata dunia.
         Buku leadership karya M.N. Ibad ini adalah sebuah karya yang mampu memadukan prinsip kepemimpinan dari dua tokoh besar yang sangat berbeda dalam hal cakupan wilayahnya. Di lain pihak, buku ini mirip dengan karya-karya sebelumnya dalam hal ini mengenai Gus Miek khususnya. Walaupun demikian, buku ini mengajak kita untuk membongkar prinsip-prinsip yang mengantarkan Gus Dur dan Gus Miek menjadi pemimpin sejati, pemimpin yang teramat dicintai rakyat, bahkan pemimpin yang namanya tetap melekat di hati umat meskipun keduanya telah (lama) wafat. Buku ini wajib Anda baca, terlepas apapun profesi kita kelak akan membutuhkannya. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah, “Setiap diri kita adalah pemimpin pada ranahnya masing-masing yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.

*) Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya

ujian nasional

POTRET UJIAN NASIONAL
Oleh: Muhammad ‘Afwan Romdloni*
Ujian nasional sesungguhnya mempunyai tujuan yang sangat penting bagi pendidikan bagi warga bangsa Indonesia. sesuai dengan pasal 57 (ayat 1). Undang-undang sidiknas yang berisi, “Evaluasi yang di lakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagi bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan” melihat dari pasal tersebut ujian nasional adalah kegiatan evaluasi secara menyeluruh di Indonesia dalam rangka penyetaraan tingkat kemampuan pada objek pendidikan. Evaluasi ini akan berdampak baik bagi semua peserta didik apabila ujian nasional ini di lakukan dengan baik pula. Tidak kalah penting lagi, selain penyetaraan pendidikan, tetapi juga harus penyetaraan dalam hal moral dalam pelaksanaan ujian bagi para peserta didik.
Pendidikan adalah usaha sadar diri dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi anak didik dikembangkan agar mereka bisa hidup mandiri dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Menurut Benyamin Bloom (1956), pendidikan mempunyai tiga domain tujuan yaitu Cognitive Domain, Affective Domain, Psychomotor Domain. Dalam bahasa tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro, Pendidikan menyangkut tiga aspek yaitu Cipta, Rasa dan Karsa. Dalam konsep ini, pendidikan dilakukan secara menyeluruh dan harus menyentuh ketiga aspek tersebut.
Namun, sebagaimana yang kita konsep pendidikan tersebut di atas jarang terjadi di Indonesia. Meskipun ada, itu hanyalah sebagai keyakinan dan tidak terealisasi dalam sebuah kenyataan. Ukuran keberhasilan pendidikan di Indonesia lebih banyak dihitung dengan angka-angka. Bahkan, tingkat kelulusan siswa hanya dihitung atau diukur dengan nilai Ujian Nasional.
Berbagai polemik yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional di Indonesia sangat tampak baik bagi demokrasi dalam negeri ini. Kita lihat dari ujian nasional 2011 ini baik dari segi waktu pelaksanaan. Masalah ini muncul dalam berbagi kalangan baik peserta, orang tua, guru, bahkan pemerintahan negara.
Sebelum Pelaksanaan Ujian
Ujian nasional (UN), adalah sebuah kata yang singkat, tapi juga kata yang mengerikan sekaligus menjadi momok yang paling menakutkan bagi mereka yang masih berlabel siswa. Karena singkatan yang terdiri dari dua huruf ini adalah menjadi barometer kelulusan yang menjadi harapan setiap siswa yang mengikuti ujian nasional. Tapi sayang, kita bukanlah seorang dalang yang bisa mengatur masalah ujian nasional, tapi kita hanyalah menjadi wayang dalam lakon sandiwara dunia pendidikan. Ujian nasional juga mengkompetisikan antara sekolah yang berada di pelosok desa yang mayoritas siswanya belajar dengan fasilitas sederhana dengan sekolah berlabel unggulan yang memiliki sarana pembelajaran yang canggih. Padahal faktanya, setiap sekolah memiliki kualitas SDM pendidik yang berbeda, fasilitas yang beragam, demikian juga kualitas murid yang tidak sama bahan bakunya, tapi terus dituntut supaya bisa mencapai target kelulusan yang sama. Namun ujian nasional 2011 berbeda dengan sebelumnya yang menjadikan hasil ujian sebagai patokan kelulusan. Yakni, kelulusan tidak hanya hasil dari nilai UN saja, melainkan akan di jumlah dengan nilai dari sekolah, yang terdiri dari nilai rapor (NR) semester satu sampai lima dan di tambah dengan nilai ujian akhir sekolah.
Peserta SD sederajat yang akan melaksanakan ujian nasional mereka di tuntut harus ikut ujian nasional ini dalam kondisi apapun, Baik para siswa yang sudah siap untuk melaksanakan ataupun belum. Seperti yang disampaikan Eko Indrajit selaku sekretaris BSNB “Ketika tidak ada bukti yang sah tentang alasan mereka tidak mengikuti ujian utama, maka sama saja tidak terdaftar, atau siswa tersebut secara otomotis tidak bisa mengikuti ujian susulan”(Duta Masyarakat,25/04). Melihat pandangan tersebut, jadi, bagi mereka yang tidak mempunyai bukti tentang alasan tidak mengikuti ujian utama secara otomatis tidak bisa mengikuti ujian susulan. Dengan demikian, bagi mereka ujian ini bersifat memaksa dan mengikat sebagai syarat sebuah kelulusan.
Saat Pelaksanaan Ujian
kurang lebih sebanyak 3.716.596 siswa dari 47.369 sekolah di Indonesia pada minggu ini dilaksanakan ujian nasional dalam tingkat SMP sederajat (Duta Masyarakat,25/04). Tidak sedikit pula para pelaksana penyelenggaraan ujian ini mulai dari guru, pengawas, kepolisian untuk menjaga kegiatan besar negara ini dari berbagi hal-hal yang tidak diinginkan.
Tetapi yang kita ketahui dari ujian tingkat SMA sederajat kemarin banyak sekali maslah yang timbul, seperti masalah di Mojokerto ketidaksesuaian antara sampul soal dengan isinya. Pada SMK Roudhotun Nasi’in, mata pelajaran matematika teknologi namun isi soalnya adalah matematika pariwisata. Selain itu juga terjadi soal ujian yang tertukar di tujuh sekolah di daerah Sidoarjo (Jawa pos 20/04).
Tidak sedikit kecurangan-kecurangan yang ada dalam proses ujian kali ini. Menurut Muhammad Nuh menteri pendidikan bahwa "Menyelenggarakan UN adalah sebuah tugas besar, jika terjadi beberapa kecurangan, saya rasa itu wajar, karena kami bukan malaikat," ujarnya (kompas 21/04). Menurut pandangannya kesuksesan UN tahun ini dapat dilihat berdasarkan data statistik klasifikasi aspirasi masyarakat tentang pelaksanaan ujian nasional penurunan yang signifikan terjadi pada jumlah pengaduan masyarakat terhadap kecurangan UN. Kalau memang demikian, apa sebenarnya tugas para pelaksana ujian yang begitu banyaknya serta tidak sedikit dana yang di keluarkan demi terlaksananya ujian nasional, bahkan menganggap itu semua adalah suatu kewajaran.
Setelah Pelaksanaan Ujian
Bagi mereka para peserta ujian tingkat SMA sederajat yang telah selesai melaksanakan ujian, mereka sudah sedikit lega. Namun, kepuasannya belum sepenuhnya terpenuhi, karena masih ada suatu sifat penasaran terhadap apa tang telah ia kerjakan. Apakah hasil ujian nanti akan memuaskan atau kebalikannya? Pikiran itu selalu terbesit dalam benak meraka, bahkan ada sebagian kecil dari mereka malah shok dengan ini semua, karena mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Ada juga sebaliknya yang selalu optimis atas segala apa yang mereka kerjakan akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Namun semua itu hanyalah sebuah perasaan belaka yang belum pasti hasilnya. Dan satu-satunya jalan bagi mereka hanyalah berdo’a kepada Allah agar selalu diberi hasil yang memuaskan sebagai jerih payah yang mereka lakukan sebelumnya.
*) mahasiswa fakultas syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Sabtu, 23 April 2011

detik-detik ujian nasional 2011

alhamdulillah ini adalah artikelq yang pertama kali dimuat surat kabar duta masyarakat surabaya pada 18 april 2011

                                                    Detik-Detik Ujian Nasional (UN)
Hari penantian telah tiba, sudah saatnya untuk berjuang mati-matian mengerjakan Ujian Nasional SMA sederajat di laksanakan pada Minggu ini. Yang akan di susul oleh para siswa setingkat di bawahnya.
Tidak sedikit siswa yang akan mengikuti ujian nasional tahun 2011 ini mencapai 10.409.562 (Duta masyarakat 13/4) dari berbagai kalangan siswa di Indonesia, dari tingkat SD sampai SMA sederajat. Perlu diketahui, bahwa UN tahun 2011 ini berbeda dengan UN tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa perubahan yang terjadi, seperti tambahan ujian untuk mata pelajaran agama dan masalah kelulusan. Pada tahun sebelumnya mata pelajaran agama tidak di UN-kan, tapi untuk tahun ini mata pelajaran agama masuk ke dalam ujian nasional. Pada tahun sebelumnya, nilai UN menentukan kelulusan peserta didik dan ada Ujian Nasional Ulangan bagi yang tidak lulus UN pertama. Dalam masalah kelulusan juga tidak hanya hasil dari nilai UN saja, melainkan akan di jumlah dengan nilai dari sekolah, yang terdiri dari nilai rapor (NR) semester satu sampai lima dan di tambah dengan nilai ujian akhir sekolah. Dan peserta didik akan dinyatakan lulus apabila mampu mencapai target minimal dari negara yakni 5,5. Yang mana hampir di setiap tahun di Indonesia mengalami peningkatan dalam target minimal kelulusan ujian nasional. Dengan kata lain, nilai sekolah juga menentukan kelulusan peserta didik untuk tahun ini. Walaupun keputusan lulus atau tidaknya masih ditentukan oleh pusat, karena semua sekolah wajib mengirimkan nilai rapor dan ujian sekolah peserta didik. Serta akan ada di lakukan uji petik yang akan dilakukan untuk membuktikan kebenaran nilai tersebut.
Arti Sebuah Kelulusan Ujian Nasional
Kelulusan dalam sebuah ujian merupakan sesuatu yang mutlak untuk di capai, di lain pihak sebuah kelulusan harus di capai dengan kejujuran yang tinggi dan bersaing dalam hal kebaikan secara sehat. Karena UN ini menjadi tumpuan utama khususnya bagi para siswa umumnya para wali murid, guru, sekolah, pemerintah untuk meningkatkan uji kompetensi pendidikan di negara Indonesia. Transparansi dalam ujian nasional akan mampu membentuk para siswa untuk jujur dan mandiri. Dengan sebab itu, pelaksanaan UN tahun ini harus jujur dan transparan agar tidak menimbulkan keresahan-keresahan di tengah masyarakat. Bagi para siswa sendiri kelulusan menjadi tumpuan utama untuk menempuh jenjang tingkat yang lebih tinggi lagi. Tanpa kelulusan para siswa sulit bisa meneruskan ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan tidak bisa.
Bagi sekolah lulus seratus persen adalah suatu target maksimal yang mampu mendongkrak tahun ajaran baru sekolah tersebut mampu menerima siswa yang banyak. Dalam kata lain, suatu sekolah mendapatkan siswa yang banyak tergantung seberapa banyak dan kualitas sekolah tersebut mampu meluluskan para siswanya pada akhir tahun. Dengan kelulusan dalam suatu ujian yang maksimal, otomatis mampu membuat terkenal dalam tingkat satuan sekolah tersebut baik di daerah ataupun di luar daerah.
Jika di lihat dari kaca mata efektivitas, sebenarnya kurang baik sesuai dengan pandangan yang di sampaikan Almarhum J. Drost, SJ, lulusan ITB dan mantan Kepala SMA Kanisius Jakarta, mengatakan bahwa "UN itu KKN". J. Drost melihat bahwa UN itu bukan sekedar siswa menyelesaikan tiga tahun belajar. Tetapi UN adalah "apakah kelulusan SMA telah mencapai hochschulreife yaitu kematangan emosional dan intelektual untuk memulai studi akademis di universitas" (2006: 83-84). Dengan mengacu pandangan tersebut yang dapat dikaitkan dengan terjadinya ujian nasional sekarang ini yang penuh dengan kecurangan-kecurangan dalam berbagai aspek sesungguhnya kita memaksa dalam istilah lain “memerkosa”kematangan para siswa untuk menempuh jenjang yang lebih tingi yakni perguruan tinggi (PT). Dengan kelulusan dalam ujian inilah yang mampu mengantarkan mereka untuk masuk dalam PT yang di minati.
Kesiapan Para Siswa dalam UN
Tidak sedikit dari para siswa merasa takut dalam pelaksanaan ujian nasional untuk mencapai target minimal di atas. Namun dalam sisi yang lain mereka sangat optimis untuk mampu mencapai target bahkan lebih dengan nilai yang memuaskan. Seperti yang di sampaikan menteri pendidikan Muhammad Nuh "Sebaiknya nilai ujian nasional yang diraih siswa tidak minimal sehingga nilai ujian sekolah yang harus dicapai siswa tidak terlalu besar untuk meraih kelulusan" (Kompas, 31-12-2010, hal. 12). Dengan itu banyak harapan bagi para siswa haruslah mampu untuk mencapai hasil yang maksimal dan tidak hanya mencapai target minimal saja.
Berbagai persiapan dan usaha mereka lakukan demi menghadapi ujian nasional ini mulai dari yang dhahir dan batin. Mereka meluangkan pendalaman materi ujian beberapa bulan sebelum pelaksanaan ujian di laksanakan. Dari berbagai pihak ikut dalam persiapan ini mulai dari para siswa sendiri, guru, sekolah, orang tua. Mereka semua berjuang bersama dari memberi motivasi tiada henti. Para guru yang mendampingi dalam pendalaman materi tak mengenal waktu dan tempat.
Di lihat dari kaca mata batiniyah banyak sekolah marak mengadakan do’a bersama atau istighasah untuk memohon kepada Allah untuk di beri kemudahan dalam ujian bahkan ada yang semalam suntuk hanya untuk istighasah. Kak Seto mempunyai pandangan bahwa "Istighasah itu baik dilakukan. Namun, jika berlebihan justru akan mengurangi makna istighasah itu sendiri," ujar Kak Seto. Jakarta, Rabu (13/4/2011). Dengan demikian sesungguhnya istighasah adalah penting namun sewajarnya saja, tidak berlebihan sampai semalam suntuk. Di sisi lain dapat mengganggu kesehatan para siswa sendiri bahkan bisa menambah beban mental mereka. Belajar dan berdo’a keduanya sama pentingnya, sebaiknya di lakukan dengan seimbang.
Dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan otomatis mereka sudah siap untuk melaksanakan ujian nasional tahun ini, dengan bekal yang disampaikan oleh para guru pengampu masing-masing. Dan mudah-mudahan ujian tahun ini menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkuantitas banyak tetapi juga berkualitas tinggi.

Sabtu, 16 April 2011

KEYAKINAN HANYA TINGGAL PEMIKIRAN

KENYAKINAN HANYA TINGGAL PEMIKIRAN
Oleh: Muhammad ‘Afwan Romdloni*
Salah satu agenda besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menjaga persatuan dan kesatuan dan membangun kesejahteraan hidup bersama seluruh warga negara dan umat beragama. Hambatan yang cukup berat untuk mewujudkan ke arah keutuhan dan kesejahteraan adalah masalah kerukunan sosial, termasuk di dalamnya hubungan antara agama dan kerukunan hidup umat beragama serta pelaksanaan hukum yang ada. Persoalan ini semakin kursial karena terdapat serangkaian kondisi sosial yang menyuburkan konflik, sehingga terganggu kebersamaan dalam membangun keadaan yang lebih dinamis dan kondusif.
Negara Indonesia yang saat ini mengalami banyak masalah, salah satunya terjajah secara batin. Saat ini dapat di ibaratkan sedang mengikuti sebuah perlombaan untuk mencapai cita-cita luhur bangsa, dalam artian terciptanya kemajuan negara yang adil dan makmur. Dimulai sejak masa kemerdekaan dahulu yakni pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai sekarang ini. Namun semua itu menimbulkan sebuah pertanyaan yang besar bagi kita, sampai kapan perlombaan ini akan selesai untuk mencapai finish? Hanya kita yang mengetahui jawabannya.
Indonesia sendiri sesungguhnya mempunyai suatu alat atau aturan yang telah diyakini bahwa dengan itu semua dapat memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia, berupa empat pilar yang luhur yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhineka Tunggal Ika. Namun semua itu harus didukung dengan perealisasian yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Betapapun baiknya sebuah peraturan perundang-undangan pada sebuah negara, apabila lembaga pelaksana tidak ada atau tidak menjalankan dengan maksimal. Maka peraturan yang sangat baik itu tidak akan berarti apa-apa, sebab tidak ada yang menjalankan dan mengawasi pelaksanaannya. Apa gunanya sebuah alat yang sangat canggih namun hanya dalam pemikiran belaka yang tidak berbuah dalam suatu tindakan yang nyata.
Arti Sebuah Keyakinan
Keyakinan adalah salah satu modal awal bagi kita untuk mencapai sebuah kesuksesan. Dalam menyelesaikan masalah apabila tidak dilandasi dengan sebuah keyakinan yang kuat sangat sulit untuk tercapai, tetapi apa gunanya suatu keyakinan yang tidak disertai dengan sebuah perbuatan, bahkan tidak mungkin untuk menyelesaikan maslah yang ada.
Praktek keyakinan diri dalam kehidupan sehari-hari selain banyak manfaat yang dirasakan, akan meningkatkan keberhasilan taraf hidup seseorang. Karena pada dasarnya seseorang yang memiliki keyakinan diri yang cukup besar akan merasa lebih nyaman dalam menghadapi segala masalah serta merasa cukup bekal dalam mengatasinya, serta wajib di sertai dengan sebuah perbuatan yang nyata. Pengertian kepercayaan diri sebenarnya dibangun dan berawal dari kerja otak seseorang. Apa yang orang pikirkan tentang kebenaran, maka itulah yang terlihat oleh orang atas diri orang tersebut.
Kenyataan dalam Negara
Titik Triwulan Tutik menuliskan dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum bahwa pelaksanaan hukum (law enforcement) di Indonesia ini tidak ada ketegasan sikap dalam menghadapi pelanggaran hukum. Indikator dapat dijadikan parameter di antaranya banyak kasus yang tertunda bahkan tidak diusut, serta laporan-laporan masyarakat tentang terjadinya pelanggaran atau kejahatan yang kurang ditanggapi. Dan itu pun juga kesadaran hukum yang rendah cenderung pada pelanggaran hukum, sedangkan semakin tinggi kesadaran hukum seseorang semakin tinggi pula kesadaran hukumnya. Kita lihat pelaksanaan hukum sekarang yang tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Misalnya banyak ketidaksesuaian antara perbuatan pelanggar dengan hukuman yang diberikan.
Dalam hal ini tidak luput pada masalah pemerintahan saja, tetapi telah menyeluruh dalam semua permasalahan yang ada di negara. Misalnya dalam masalah kebersihan lingkungan, sebagaimana yang kita ketahui kebersihan adalah salah satu cara bagai mana kita untuk hidup sehat, yang telah termuat dalam UU. Tak lepas dalam UU agama islam sangat menganjurkan untuk menjaga kebersihan, serta kebersihan adalah sebuah cermin untuk mengetahui seberapa besar keimanan seseorang. Namun apa yang sekarang kita lihat di negara kita banyak sekali sampah-sampah yang berserakan dan pemukiman kumuh yang berada di pelbagai tempat, yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mempunyai etika dalam kebersihan. Begitu juga dalam masalah tata tertib lalu lintas yang semua sudah di atur dalam pasal-pasal tersendiri, namun masih banyak kalangan masyarakat yang melanggar aturan tersebut serta mereka meyakini bahwa apabila melanggar sesuatu peraturan tersebut akan terjadi kejadian yang fatal yang terbukti masih banyak terjadi kecelakaan lalu lintas di setiap daerah. Dari situ dapat dilihat tidak adanya keseimbangan antara keyakinan dalam diri seseorang dengan perbuatan yang lakukan.
Keyakinan dalam Beragama
Terlebih dalam masalah agama, sesungguhnya masyarakat Indonesia mayoritas beragama islam. Dan di dalam islam sendiri banyak mengajarkan untuk selaras atau seimbang antara pengetahuan atau keyakinan dengan sebuah kenyataan. Namun dapat kita lihat bersama bahwa orang yang beragama yang tidak mau melaksanakan dengan perintah-perintah agamanya, jarang beribadah, mengabaikan aturan-aturan agama dalam hidupnya. Tetapi, ia bereaksi kalau agamanya diganggu. Orang tersebut tahu agama itu bagus dan penting, karenanya tidak menerima bila agamanya dihujat atau dilecehkan. Kalau ada acara-acara keagamaan ia mendukung, ia suka agama berkembang, ia memberi sumbangan dan menunjukkan dukungan simpatiknya. Dan ia merasa sudah baik dan benar dengan sikapnya seperti itu. Tetapi, orang itu sendiri tidak taat pada perintah-perintah agama yang dianutnya. Bahkan tidak merasa perlu melaksanakan shalat, puasa, menutup aurat, meningkatkan kesadaran.
Dengan demikian telah kita ketahui bahwa bangsa Indonesia mampu untuk mencapai puncak kemajuan, asalkan semua aturan-aturan yang ada baik dalam Negara ataupun agama dilaksanakan dengan maksimal. Karena minimnya kesadaran masyarakat Indonesia sekarang ini terhadap aturan tersebut. Maka dari itu, semua menjadi tugas besar kita bersama untuk meningkatkan kesadaran terhadap apa yang telah kita yakini bahwa itu baik bagi kita semua.
*Mahasiswa Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya

Minggu, 06 Maret 2011

TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL

TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL
Review sebuah buku serial ke-2 diskusi tasawuf modern, karya Agus Mustofa
oleh : Muhammad Afwan Romdloni
Kita sebagai makhluk yang sempurna, yakni kita di beri sesuatu yang sangat luar biasa berupa akal. Allah memberikan kepada manusia berbagai macam hidayah salah satunya adalah akal, sebab itu kita di tuntut untuk menggunakan sesuai dengan fungsinya seperti; berpikir yang positif dan tak lepas juga dengan hati, serta dengan hati inilah kita dapat merasa dan menghayati. Kita ini tidak seperti makhluk-makhluk lain yang mana kita adalah sebuah ciptaan Allah dan suatu saat nanti pasti akan mati ataupun binasa, dan kita setelah mati harus melewati suatu tahap kelanjutanya yakni alam akhirat, dan alam akhirat ini tidak di alami oleh makhluk-makhluk lain seperti hewan, tumbuhan, bebatuan dan yang lainnya.
Dan berkat akal ini kita dapat memikirkan apa-apa yang ada di alam ini baik yang ghoib ataupun yang nyata, contohnya, salah satunya Agus Mustofa, beliau adalah seseorang yang lahir di malang pada tanggal 16 Agustus 1963 ini. Beliau menimba ilmu sains yang menjadi dasar pemikirannya di fakultas teknik nuklir, universitas Gajahmada, Yogyakarta. Tidak lepas itu beliau juga mengikuti jalan hidup para dosenya dalam kajian keilmuan islam bernama prof. Ahmad Baiquni dan Ir. Sahirul alim, beliau ini adalah seseorang yang sungguh memanfaatkan karunia yang diberikan Allah ini berupa akal, yang mampu merealisasikan ilmu lama seperti ilmu tasawuf dalam masa sekarang, yang terkenal dengan “tasawuf modern” yang terdiri dari ilmu tasawuf yang klasik dan ilmu sains yang modern.
Dan beliau juga berhasil menuangkan pemikirannya dalam beberapa buku serian diskusi tasawuf modern yang laris di Indonesia dan buku tersebut bahkan kebanyakan bersifat provokatif (bertentangan). Beliau ini adalah seseorang yang terus mau berpikir dan merenungkan tanda-tanda keagungan Allah SWT baik yang ada di langit dan di bumi. Salah satu karyanya yang tersebar di Indonesia adalah sebuah buku serial diskusi tasawuf modern yang berjudul ”Ternyata Akhirat Tidak Kekal”. Yang mana buku ini menceritakan alur kehidupan kita di dunia ini dan akhirat kelak serta mulai dari penciptaan sampai hari kehancuran.
Membahas masalah alam ghaib seperti surga, neraka, alam qubur, dan juga alam akhirat. Ghaib itu secara bahasa berarti sesuatu yang tidak terdeteksi olah panca indra, meskipun demikian di sebut ghoib itu pun ada, dan keadaan tersebut sebenarnya terjadi di sekitar kita. Dan keghaiban tersebut bersifat relatif yang mana dapat di simpulkan bahwa sesuatau yang ghoib itu tidaklah bersifat mutlak adanya, dengan adanya perkembangan zaman itu semua dapat di teliti dengan detail seperti contoh energi magnetik yang mana daluhu merupakan perkara yang ghoib namun sekarang itu semua sudah terhapus akan keghoibanya , demikian pula berbagai penemuan seperti bidang kedokteran, biologi, fisika dan yang lain sebagainya (30-36).
Allah mempunyai sebuah salah satu ciptaan berupa alam semesta yang mana dikhususkan pada salah satu planet dalam gugusan bima sakti yakni bumi, dan di bumi inilah Allah telah meletakkan kita dalam drama kehidupan atau tempat keberlangsungan manusia untuk menjalankan segala aktivitasnya, dan tidak ampai situ saja bahkan kita akan mengalami kematian di bumi ini juga. Dan segala ciptaannya itu bertujuan untuk keberlangsungan hidup manusia, apapun itu bentuknya, dari yang hina sampai yang di anggap mulia.
Dalam penciptaan langit dan bumi, ada sebuah pertanyaan apakah alam semesta ini sudah ada sejak dahului kala? Bila di bahas dalam ilmiah ada beberapa argumentasi yang berbeda. Pertama, alam semesta ini sudah ada sejak dahulu kala dan tidak memiliki permulaan serta selamanya akan ada, yang terkenal dengan mekanisme tertutup (Close universe). Kedua, bahwa alam semesta ini bersifat terbuka (open universe) dan alam ini mengarah pada kehancuran masa depan. Ketiga, bahwa alam semesta ini dahulu pernah tidak ada dan kemudian terjadilah proses penciptaan dan akhirnya akan hancur kembali (78-81).
Allah menciptakan makhluk dalam berbagai bentuk serta tempat yang berbeda-beda. Seperti para malaikat, jin, manusia, tumbuhan, dan binatang-binatang mempunyai fungsi yang berbeda-beda serta tempat yang berbeda beda pula sesuai kemampuannya. Dan yang terakhir adalah benda mati yang berfungsi sebagai fasilitas bagi makhluk-makhluk Allah lain.
Dunia dan akhirat adalah merupakan kekuasaan Allah yang luar biasa, lantas apa yang membedakan di antara dari keduanya? Dunia adalah, di mana manusia melaksanakan segala aktivitasnya sebelum kematian telah tiba, dan akhirat adalah, kehidupan yang terakhir atau lebih akhir dari kehidupan sekarang ini, dan banyak pendapat bahwa tiada lagi kehidupan setelah ini. dalam buku tersebut telah di sebutkan bahwa akhirat adalah alam ghaib yang entah akan terjadi di mana? Dan kebanyakan orang berpikir akhirat itu akan terjadi di luar alam semesta, dan ada yang menyimpulkan bahwa akan terjadi di alam semesta sekarang ini, lantas apa yang membedakan antara keduanya yang ada di alam semesta ini? Dalam buku ini di sebutkan bahwa bumi kehidupan dunia dan bumi kehidupan akhirat adalah bumi yang tidak sama, bahwa bumi akhirat berasal dari bumi dunia juga, tetapi setelah mengalami perubahan secara radikal hal ini yang di kemukakan dalam QS. Ibrahim : 48 (120). Dan di dunia ini adalah bukan hidup yang sesungguhnya dan yang sesungguhnya nanti ketika kita berada dalam akhirat nanti.
Hari kiamat pasti akan terjadi, kapan itu akan terjadi? Dan apakah kita akan mengalaminya atau tidak? Secara ilmiah bumi kita ini suatu saat nanti akan mengalami kehancuran yang dahsyat, setidaknya ada dua mekanisme terjadinya tersebut, yakni ketika matahari telah tak mengeluarkan sinar cahayanya lagi dan akan terjadinya tabrakan antara bumi dengan batu-batuan langit lainya. Serta dapat di lihat secara qur ani yang mana telah banyak di sebutkan bahwa itu semua akan terjadi dan tiada keraguan sedikit pun, namun tidak dapat di ketahui kapan akan terjadi kita hanya bisa mengetahui dari tanda-tanda yang di timbulkan. Kita di dunia ini sangatlah singkat dan kita di ciptakan hanya untuk beribadah semata, maka, apa-apa yang kita kerjakan di dunia ini di akhirat kelak pasti ada timbal baliknya atau balasan terhadap kehidupan kita di dunia, demikian juga dengan jin.
Dan kebangkitan kita kelak dari alam qubur orang kafir tak akan percaya akan hal tersebut. Setelah kita di bangkitkan kita kelak masuk dalam masa pengadilan, dalam pengadilan di akhirat ini tidak seperti mekanisme di dunia saat ini namun semua itu akan terekam seperti saat kita melaksanakannya dan tidak satu pun dari kita untuk lolos dari pengadilan tersebut. Dalam untuk mengadili manusia Allah memiliki 3 mekanisme yang sangat canggih tidak seperti mekanisme di dunia sekarang ini yang terdiri dari: pertama, rekaman memori otak, kedua, rekaman genetika. Ketiga, rekaman struktur alam semesta. Dan pada saatnya kelak semua rekaman itu akan di putar kembali, bahkan kita bisa melihat kejadian masa lalu kita di dunia, dengan diubahnya struktur alam oleh Allah, seperti mempertajam indera kita dan mengubah struktur langit (210-234). Dan hasil keputusan pun telah jelas di mana kita akan tinggal setelah itu? Itu semua bisa kita ketahui dari amal kita di dunia ini, apabila kita banyak melakukan kebaikan maka kita akan masuk surga, dan sebaliknya.
Inti dari alam akhirat adalah surga dan neraka. Di langit ke tujuh lah tempat beradanya surga dan neraka tepatnya berada di sidrotul muntaha, di mana rosulullah pada saat isro’ mi’roj mengetahui surga dan neraka dan sana, yang mana itu semua dapat di ketahui dari al qur an QS. An Najm :14-15. Dan bagaimana surga dan neraka tersebut? Sampaikan pun kita tidak dapat mengetahui bagaimana sebenarnya surga dan neraka tersebut sebelum batas-batas dimensi antara langit dan bumi telah di lenyapkan oleh Allah kelak, dan sekarang kita hanya bisa mengetahui sifat-sifat tersebut dan sangat terbatas dari ayat-ayat al qur an.
Dalam akhir buku karya Agus mustofa ini memberi kesimpulan bahwa sesungguhnya semua apa yang di alami manusia akan rusak atau musnah kecuali Allah SWT termasuk alam akhirat. Dan kesimpulan ini membuat mengusik pemahaman kita terhadap akhirat itu kekal adanya, seperti yang di uraikan dalam beberapa ayat al quran yang tidak kurang 110 ayat bahwa akhirat itu kekal adanya. Mengapa kok demikian? karena beliau (Agus Mustofa) mengambil inti dari sebuah ayat al qur an yakni pada QS. Huud:107 yang menyatakan bahwa kekekalan akhirat itu terbatasi dengan adanya langit dan bumi sekarang ini.
Di lihat dari segi logika agama, kita mengetahui bahwa eksistensi di dunia ini ada dua komponen saling bertolak belakang, pertama, adalah sang pencipta atau “kholiq” yang mana Alah lah menciptakan segala apa yang ada di dunia ini tanpa terkecuali serta kekal abadi selamanya, yang kedua, makhluk atau hasil penciptaan dari Allah semata, makhluk ini karena pernah tidak ada, kemudian di ciptakan oleh Allah dan di kemudian hari nanti pasti akan rusak pula termasuk pula alam akhirat sesuai dengan QS. An Anbiyaa’: 22. Dari situ menimbulkan kunci dari pemahaman pertama, sesungguhnya akhirat tidak kekal tetapi ke tidak kekekalannya itu tidak mengurangi arti dari informasi dahulu bahwa kita akan kekal di dalamnya. Kedua, sesungguh alam akhirat ini berada di alam semesta ini, karena itu ia bergantung dengan alam semesta itu sendiri dalam hal keberadaannya. Ketiga, pengarang khawatir apabila kita berpendapat bahwa akhirat itu ada selamanya bersama Allah, kesan ini beliau tangkap dari pemahaman yang parsial seperti bahwa Allah akan bisa di temui hanya di alam akhirat saja (315-326).
Dan apabila di lihat dari segi logika sains, suatu saat nanti alam semesta ini akan lenyap dengan dua analoginya, pertama, di alam ini ada dua energi yang saling bertentangan yakni energi positif dan negatif, suatu saat nanti pasti akan terjadi pertemuan di antara keduanya. Kedua, mengecilnya atau menciutnya alam semesta ini setelah mengalami perkembangan selama 15 milyar tahun, serta akan lenyap di pusat alam semesta. Dan sampai kapan itu akan terjadi? Sesungguhnya akhirat akan terus berlangsung selama langit dan bumi masih ada, dan sesungguhnya semua ini akan rusak kecuali Allah SWT sediri (327-334)
Dan sesungguhnya kesimpulan beliau yang kontroversial yang mengusik keyakinan kita, bahwa sesungguhnya akhirat itu akan kekal selamanya. Hal ini sedikit di kritik oleh A. Mustofa Bisri (kiai serta budayawan dari Rembang) bahwa sesungguhnya beliau membuat kesimpulan Hanya dengan memandang dari satu sisi ayat belaka yakni (QS. Huud:107), dan tidak memandang ayat-ayat yang lain serta beliau mengesampingkan dari segi tafsirnya ayat tersebut. Dan sesungguhnya menurut ahli tafsir, makna langit dan bumi tersebut bukanlah langit dan bumi sekarang ini yang ada di alam semesta ini. Seperti penjelasan imam abu jakfar ibn jarier mengungkapkan bahwa ungkapan “selama ada langit dan bumi” itu ungkapan yang sering di gunakan oleh kebanyakan orang arab apabila memperkuat pernyataan kekal, seperti juga ungkapan “selama matahari masih terbit dari arah timur”. Imam ibn kastir juga berpendapat bahwa langit dan bumi tersebut adalah langit dan bumi yang berbeda dengan yang ada saat ini. Karena sudah pasti alam akhirat juga ada langit dan bumi hanya saja berbeda dengan langit dan bumi saat ini, serta sesungguhnya surga dan neraka itu mempunyai langit dan bumi sendiri. Dan kekekalan Allah itu berbeda dengan kekekalan para makhluk Nya, dalam arti, kekekalan makhluk itu tergantung dengan masyiatullah, kehendak Allah. Dengan kata lain bahwa makhluk itu akan kekal karena di kehendaki oleh Allah seperti kekekalannya mereka, baik di surga ataupun di neraka sebagaimana yang telah di sebutkan di beberapa ayat al quran dan hadis shohih laiannya.
Namun dengan ini semua membuat kita sebagai pembaca mengetahui bagaimana sesungguhnya terjadinya alur kehidupan di dunia ini serta alam akhirat. Dan juga kita dapat mengambil banyak pelajaran yang bermanfaat dan menambah keyakinan kita terhadap hari akhir kelak. Dan akhirnya saya juga berpendapat bahwa buku ini perlu untuk di baca sebagai tambahan memperluas wawasan kita akan kehidupan alam ini.
Demikian, wallahu ‘alam bis showab.

Surabaya, 6 Maret 2011M/1Robiul Awal 1432 H

Pertanyaan Umum

Pertanyaan Umum

Kamis, 24 Februari 2011

mari qt tegakkan sholat dhuha

Salah satu sholat sunnah yg dicontohkan Rasululloh SAW adalah sholat sunnah Dhuha. Bahkan beliau menjadikan sholat dhuha ini sebagai salah satu wasiat beliau, sebagaimana hadits berikut:
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: ” Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal :
a) agar aku berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan,
b) melakukan sholat dhuha dua raka’at dan
c) melakukan sholat witir sebelum tidur.”
( H.R. Bukhari & Muslim ).

Aku sendiri melakukan sholat dhuha, salah satunya untuk meluruskan niatku kuliah&bekerja, yakni menjadikan kuliah&kerja sebagai ibadah. Karena seringkali orang bekerja dg tujuan hanya mencari uang (duniawi) semata, sehingga melupakan aspek ibadah (akhirat).

Sementara itu, manfaat sholat dhuha sendiri, dari beberapa ustad, antara lain:
1. Agar dilapangkan dada dalam segala hal, terutama rejeki.
2. Ungkapan terimakasih kita kepada ALLOH SWT, atas nikmat sehat tubuh kita.
3. Pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan (Kiamat) nanti.
4. Mendapat ganjaran surga, sesuai dengan hadits Rasululloh SAW,“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil,” Dimana orang yang senantiasa mengerjakan sholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” ( H.R. at-Tabrani).